Komponen propeller shaft

Mengenal Lebih Jauh Komponen Propeller Shaft

Wartakota123.com – Komponen propeller shaft merupakan bagian penting dari sistem baling-baling. Namun tidak semua jenis mobil memiliki part ini, melainkan hanya pada mobil dengan sistem penggerak FR dan 4WD. Pada kedua jenis sistem penggerak tersebut, putaran mesin akan tersambung ke roda belakang.

Poros baling-baling sebagai salah satu bagian untuk transfer energi. Untuk itu kali ini kita akan membahas tentang komponen – komponen propeller shaft atau poros baling-baling beserta fungsinya masing-masing.

Poros baling-baling umumnya terletak antara sistem transmisi dan sistem diferensial. Namun anda akan menemukan poros baling-baling tambahan jika jenis penggerak mobil adalah 4WD, yaitu poros baling-baling yang mengarah ke as pada roda depan.

Komponen Propeller Shaft

Poros baling-baling dilengkapi dengan suatu komponen yang disebut timbangan berat yang terpasang pada bagian luar pipa poros baling-baling. Dengan tujuan agar poros baling-baling tetap seimbang saat berputar sehingga tidak terjadi getaran pada poros baling-baling saat berputar. Berikut rinciannya.

Slip Yoke

Berfungsi menghubungkan poros output transmisi ke universal join pada bagian depan.

Front Universal Joint

Berfungsi mengikat slip yoke pada drive shaft.

Drive Shaft Salah Satu Komponen Propeller Shaft

Berfungsi meneruskan tenaga putar dari fron universal joint ke rear universal joint.

Rear Universal Joint Komponen Propeller Shaft

Berfungsi penghubung antara drive shaft dengan yoke.

Yoke

berfungsi sebagai dudukan rear universal joint dan menghubungkan propeller shaft ke gardan.

Jenis Sambungan Universal Komponen Propeller Shaft

Sambungan universal atau sambungan universal lihat dari konstruksinya dapat Anda bedakan sebagai berikut:

Hooke’s Joint

Ada 2 jenis sambungan universal hooke’s joint yaitu jenis solid bearing cup (sambungan universal yang dapat Anda bongkar pasang) dan jenis sheel bearing cup (sambungan universal yang tidak dapat Anda bongkar pasang). Pada umumnya poros baling-baling menggunakan konstruksi jenis ini, karena selain konstruksinya yang sederhana, jenis ini juga berfungsi secara akurat dan konsisten.

Slip Joint

Panjang poros baling-baling dapat bervariasi karena perubahan jarak atau posisi transmisi dan diferensial. Pada ujung poros baling-baling yang terhubung dengan keluaran transmisi yang alur nya untuk pemasangan sambungan slip. Hal ini bertujuan agar panjang propeller shaft dapat menyesuaikan dengan jarak antara output transmisi dan differential.

Trunion Joint

Pada sambungan universal tipe sambungan trunion, sambungan ini merupakan gabungan dari jenis sambungan hooke dengan sambungan slip. Dalam bodi terdapat alur yang berfungsi sebagai titik masuk poros baling-baling dan ujung pin yang menempel pada bola. Model ini jarang terpakai, karena transfer tenaga putar dari mesin tidak baik dengan jenis slip joint itu sendiri.

Fleksibel Joint

Pada sambungan universal, sambungan fleksibel jenis ini terdiri dari sambungan karet keras dan terletak antara dua kuk berbentuk tripod. Model ini memiliki keunggulan tidak mudah aus, tidak berisik, dan tidak memerlukan oli/grease.

Tetapi jika sudut antara poros penggerak dan poros yang bergerak melebihi 7-10o. Maka akan timbul juga getaran, untuk menghindari hal tersebut dipasang ring ball tengah pada ujungnya.

Constant Velocity Joint

Pada sambungan universal, sambungan kecepatan konstan dapat mentransfer gaya putar lebih lembut daripada sambungan hooke. Model ini dapat menciptakan kecepatan sudut yang lebih baik yang mengurangi getaran dan kebisingan, tetapi lebih mahal.

Tipe ini digunakan pada kendaraan yang menggunakan sistem transfer tenaga tipe front engine front drive. Demikian ulasan kami mengenai komponen propeller shaft, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *